Salam
Seluruh ummat di manapun berada, kali kita akan membicarakan tentang suara yang tersembunyi namun kita mendengarnya.
Memandang percakapan hati dari masing-masing pribadi dengan berbagai ragam bahasa dan corak dalam setiap waktu, yang mana bahasa dan gaya bicaranya pun sesuai wawasan dan kebiasaan individu masing-masing pula.
Dalam berbagai disiplin ilmu apapun, bertujuan untuk berorientasi kepada lingkungan untuk menjadi lebih teratur dan rapi dalam menuju cita-cita.
Sebagaimana hal dengan dihadirkannya Agama ( A : Tidak - Gama : Kacau ) yakni agama terbit dari kumpulan ilmu yang disampaikan oleh seorang atau lebih figur dengan tuntunan dari Ruhaniyahnya yang terbimbing oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Berbicara Agama, ada banyak ragam agama ( Peraturan ) yang semuanya berintisari dengan perdamaian, kerharmonisan, ketenangan dan persahabatan serta keselamatan hakiki.
Tidak ada Agama yang tidak baik, semua Agama bertujuan senantiasa terbaik bagi pemeluknya.
Dengan menelaah sedikit hal ini, mampukah kita bersangka baik secara otomatis ??
Tidak ada paksaan untuk bersangka baik, melainkan hadir dengan sendirinya ???
Khatar, I'tirad atau sangka terhadap agama itu atau ini ... hal tersebut merupakan kesalahan besar, sebab memandang agama apapun, tidak ada tujuan agama yang berpedoman kepada perpecahan, permusuhan, pertengkaran, huru-hara dan sejenisnya.
Dengan adanya perpecahan yang berbau Agama, ini tentulah diprovokatori oleh oknum yang tidak memeluk dan mempelajari serta mengamalkan Agama itu sendiri.
Berpolitis untuk kepentingan Kelompok maupun Pribadi guna mencapai kepuasannya sendiri.
Jadi, seluruh Ummat dimanapun berada.
Agama tak ada salah, semua agama adalah kebenaran untuk memberikan pedoman, haluan terbaik kepada pemeluknya.
Salah satu contoh bahasa di dalam Pedoman Agama Islam dalam hal ini kami kutip :
"Innaddina 'Indallahil Islam". Artinya:
"Sebenar-benarnya agama (yang di anggap sah) di akui Allah, yaitu agama Islam".
Ayat tersebut adalah Kebenarannya Nyata, namun kita sebagai ummat manusia harus lebih mendalami pemahaman ayat guna mendapatkan keyakinan yang akurat dan tidak memaknai secara dangkal terhadap perihal apapun.
Memaknai ayat diatas secara umum kebanyakkan oleh pemeluk islam adalah seolah agama yang benar hanyalah Islam, sehingga muncul kesimpulan yang menyangka agama selain islam adalah agama yang kafir dan Tidak benar.
Hal ini betul dalam pemaknaan dangkal, namun tidak sinkron dengan dengan pengartian hakikinya oleh sebab kita memaknai secara instant saja.
Makanya didalam islam sendiri, banyak ayat menyebutkan di kitabnya, antara lain :
- Masuklah ke dalam Islam secara Keseluruhannya.
- Bagi Kaum yang berpikir.
Kalimat diatas mendorong kita sebagai ummat untuk berpikir dalam menyimpulkan segala sesuatu, sehingga mendapatkan pemahaman yang sejati.
Dengan otomatis mampu memandang dan bersangka baik kepada sesuatu hal.
Bahasa ISLAM itu memiliki makna selamat, Memiliki arti Berserah (Tawakkal)
Jadi setiap agama yang ada di Indonesia, semuanya menuntun kepada tujuan selamat dan bertawakkal dalam menjalani kehidupan.
Sebagai ummat, kita diwajibkan menuntut ilmu guna mampu menelaah ayat demi ayat dan mengaplikasinnya dalam kehidupan.
I'tirad, khatar maupun sangka buruk kepada apapun itu adalah hal yang terberat dalam perjalanan ummat menuju pengenalan dirinya.
1000 kitab dan 1000 guru yang membimbing kita, semuanya bertujuan untuk bersangka baik kepada apapun. Dan ciri ummat yang bijaksana adalah dia yang mampu menyayangi siapapun lebih daripada ia menyayangi dirinya sendiri.
Mengapa ciri ummat bijak seperti itu ?
Karena dia bersangka baik
Karena Ia mengenal dirinya sebenarnya
Karena ia mengerti ia datang dan akan kemana
Sebab ia kenal akan Penciptanya.
Sebab ia Memandang Keagungan Penciptanya.
Sehingga hilanglah secara otomatis pemandangan buruk dan sangka jelek kepada perihal apapun.
Perjalanan menuntut ilmu tidaklah ada kata berakhir, ditegaskan dengan kalimat :
" Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat "
Pemaknaan kalimat ini, lebih menekankan prioritas kepada menimba wawasan selama menjalani hidup, dari lahir hingga tutup usia.
Dan Makna khusus mengenai menuntut ilmu dari buaian adalah tatkala hembusan nafas turun naik membuai jiwa .... hingga ke liang lahat dalam makna sampai kita mati secara maknawi, bahwa tiada ada yang wajib bersifat Hidup di semesta ini melainkan hak muthlak dari sifat Sang Maha Kuasa ( Hayyun )
Bagi ummat dimanapun Anda berada.
Perjalanan menuntut ilmu terkait dengan kematangan jiwa dalam pembentukkannya untuk bersifat rahma dan rahim. yakni bersifat kasih sayang, sehingga takkan pernah ada rasa benci, rasa tidak suka, rasa marah kepada apa yang dipandangnya.
Dan melahirkan persepsi positif ( sangka baik ) terhadap apapun
Dan inilah obat mujarab bagi penyakit bathin yang berefek kepada penyakit jasad
(fisiologis).
Sehingga sesuai tujuan agama yang bermakna selamat dengan amaliyah (aplikasi) nya.
Bersangka baik itu ciri ummat yang mau belajar
Bersangka baik itu menghilangkan keterpautan musyrik kepada Tuhannya
Bersangka baik itu tidaklah merugikan walau dipandang oleh lainnya adalah merugi
Sebab dalam segala hal, Ummat yang bersangka baik memandang sesuatu adalah keagungan Tuhannya.
Mumpung ada kesempatan
Napas masih bernyanyi
Raga masih menari
TUNTULAH ILMU WALAU KE NEGERI MANAPUN
APLIKASAN ILMU DALAM PERJALANANNYA
SEHINGGA PADA SUATU MASA
UMMAT AKAN BERTEMU DIRI HAKIKI
UMMAT AKAN MEMANDANG TUHANNYA YANG ESA
SEHINGGA KEBENCIAN HANCUR
KASIH SAYANG SUBUR
DAN SANGKA/KHATAR/I'TIRAD AKAN MULYA DIMATA KITA
AMIN ... AMIN